Pandemi Global Covid-19

 

Assalamualaikum Wr.Wb., Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, dan Salam Sejahtera bagi kita semua.

Selamat 24 zona waktu untuk pembaca di seluruh dunia. Apa kabar pembaca di seluruh dunia? Saya harap baik dan tetap semangat dimasa pandemi ini. Pada blog saya hari ini saya akan membahas sebuah isu kontemporer atau isu yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Isu yang akan saya bahas adalah Pandemi Covid-19. Tahun 2020 memang sudah dimulai dengan kurang baik, mulai dari banjir yang melanda beberapa kota di Indonesia salah satunya di Ibukota Jakarta pada saat tahun baru, kebakaran hutan skala besar di Australia, dan banyak kejadian lain yang mengejutkan. Namun peristiwa yang paling menguncang dunia adalah peristiwa Pandemi Covid-19.


Virus Corona muncul pertama kali di Wuhan, Cina yang kemudian menyebar ke seluruh dunia sehingga dinyatakan sebagai sebuah pandemi global. Virus Corona tersebar melalui tetesan (droplets) yang merupakan hasil dari seseorang batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidungnya. Tetesan tersebut kemudian menempel pada orang lain atau suatu benda sehingga orang lain atau benda tersebut terkontaminasi dan virus tersebut tersebar melalui kontak fisik. Peneliti menyatakan bahwa masa inkubasi virus tersebut adalah 2-14 hari, sedangkan gejala terkena virus tersebut baru akan muncul pada hari kelima. Gejala yang sering dialami saat seseorang terpapar virus tersebut adalah demam tinggi, batuk kering, dan kelelahan. Dengan begitu, untuk menghindari penyebaran Covid-19, masyarakat di seluruh dunia dihimbau untuk menjaga kesehatan dan tetap berada di rumah dengan tujuan mengurangi kontak dengan manusia lain. Pandemi ini menyebabkan segala kegiatan mulai dari sekolah hingga bekerja dilakukan di rumah masing-masing. Namun, jika ada masyarakat yang tidak memungkinkan untuk bekerja di rumah, maka mereka wajib mengikuti protokol kesehatan yaitu dengan memakai masker, saling menjaga jarak dan senantiasa menjaga kebersihan dengan mencuci tangan.


Pandemi Virus Covid-19 menyebabkan banyak kerugian dalam berbagai bidang terutama pada bidang ekonomi. Sebagai contoh, ketika negara-negara memberhentikan segala aktifitas keluar-masuk antarnegara, hal ini akan menyebabkan kerugian besar pada sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, pusat-pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan karena tidak adanya pengunjung. Dengan tidak adanya pemasukan, beberapa tempat tersebut terpaksa tutup sementara atau mengurangi pegawai sehingga ekonomi mereka menurun. Perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis antarnegara seperti ekspor-impor pun ikut terkena dampak dari pandemi ini. Penurunan pada bidang ekonomi tersebut juga menyebabkan beberapa negara mengalami resesi. Menurunnya ekonomi dan kehilangan pekerjaan menjadi salah satu pemicu beberapa masyarakat mengalami gangguan mental. Pemicu lainya dapat berupa rasa takut akan terpapar virus tersebut, serta munculnya rasa terisolasi dan kesepian karena tidak dapat keluar rumah. Gangguan mental tersebut menyebabkan peningkatan angka terjadinya kekerasan rumah tangga dan penggunaan narkoba. Dengan begitu, selain menjaga kesehatan fisik WHO juga menghimbau pentingnya menjaga kesehatan mental pada saat pandemi seperti ini. 


Harapan untuk dunia kembali pulih mulai terlihat. Negara-negara seperti Cina, inggris, dan Rusia sedang dalam proses pembuatan vaksin untuk Virus Corona. Saat ini beberapa vaksin sudah berada dalam fase uji coba terhadap manusia. Salah satunya Vaksin Sinovac yang berasal dari Cina, dimana telah dilakukan uji coba di beberapa negara seperti Brasil, Bangladesh, Turki, dan juga di Indonesia. Jika uji coba terhadap Vaksin Sinovac berhasil, Indonesia akan mendapat porsi terhadap vaksin tersebut. Dimana pada akhir tahun 2020 sekitar 20 juta dosis, dan akan meningkat pada awal tahun 2021 dengan sekitar 250 juta dosis vaksin tersebut. Tidak kalah dengan negara lain, Indonesia pun ikut mengembangkan vaksin sendiri yang disebut Vakisin Merah-Putih, yang dimana pada bulan September kemarin Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa upaya pengembangan bibit vaksin sudah mencapai 50%. Melihat kemajuan tersebut, diperkirakan vaksin tersebut akan diproduksi massal pada akhir tahun 2021. Mengetahui hal tersebut, rasanya menjadi lebih tenang. Sekarang hal yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan tentunya senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dunia dapat cepat pulih kembali. Itulah akhir dari pembahasan saya hari ini, bagi para pembaca di seluruh dunia, tetaplah semangat dalam menghadapi pandemi ini. Sekian dan terima kasih.

Salam hangat, S/N

 


Comments

Popular Posts